daftar kunjungan

Minggu, 30 Desember 2012

pewrancang basis data





BAB 7

PENERAPAN BENTUK NORMALISASI

 

Pada proses perancangan database dapat dimulai dari dokumen dasar yang dipakai dalam sistem sesuai dengan lingkup sistem yang akan dibuat rancangan databasenya. Berikut ini adalah contoh dokumen mengenai faktur pembelian barang pada PT. Revanda Jaya..

 

 

               FAKTUR PEMBELIAN BARANG
PT REVANDA JAYA
Jl. Bekasi Timur No. 2
Bekasi Timur

Kode Supplier  :  G01                                                                             Tanggal :       07/02/2001
Nama Supplier :  Gobel Nustra                                                               Nomor   :       998

Kode
Nama Barang
Qty
Harga
Jumlah
A01
AC Split ½ PK
10
1.350.000
13.500.000
A02
AC Split 1 PK
10
2.000.000
20.000.000
Total Faktur
33.500.000
Jatuh Tempo Faktur  :  09/03/2001

 

               FAKTUR PEMBELIAN BARANG

PT REVANDA JAYA
Jl. Bekasi Timur No. 2
Bekasi Timur

Kode Supplier  :  S02                                                                             Tanggal :       02/02/2001
Nama Supplier :  Hitachi                                                                                    Nomor   :       779

Kode
Nama Barang
Qty
Harga
Jumlah
R01
Rice Chocker C3
10
150.000
1.500.000
Total Faktur
1.500.000
Jatuh Tempo Faktur  :  09/03/2001


Gambar 7.1. Faktur pembelian barang


Sehubungan dengan dokumen dasar tersebut, tahapan yang harus dilakukan untuk melakukan normalisasi data adalah sebagai berikut:

1.  Bentuk Unnormalisasi

Langkah pertama dalam melakukan normalisasi data adalah dengan membentuk contoh data tersebut didtas dengan membentuk unnormalisasi data, dengan cara mencantumkan semua atribut data yang ada apa adanya seperti terlihat berikut ini :


No Fac
Kode Supp
Nama Supp
Kode Brg
Nama Barang
Tanggal
Jatuh Tempo
Qty
Harga
Jumlah
Total
779
998

S02
G01
Hitachi
Gobel Nustra
R02
A01
A02
Rice Chocker C3
AC Split ½ PK
AC Split 1 PK
02/02/01
07/02/01
09/03/01
09/03.01
10
10
10
150000
135000
2000000
1500000
13500000
20000000
1500000
33500000


Gambar 7.2. Relasi faktur unnormalisasi
Pada relasi diatas adalah dengan menuliskan semua data yang ada yang akan direkam, data yang double tidak perlu ditulis. Terlihat baris / record yang tidak lengkap. Sulit dibayangkan bagaimana bentuk baris yang harus dibentuk untuk merekam data itu.

2.. Bentuk Normal Pertama (1 NF)
Bentuklah menjadi bentuk normal pertama dengan memisah-misahkan data pada atribut-atribut yang tepat dan bernilai atomik, juga seluruh record / baris harus lengkap adanya. Bentuk relasi adalah flat file. Dengan normal pertama kita dapat membuat satu tabel yang terdiri dari 11 Atribut yaitu à

(No_Faktur, Kode_Supplier, Nama_Supplier, Kode_Barang, Nama_Barang, Tanggal, Jatuh_Tempo, Qty, Harga, Jumlah, Total ).
Sehingga hasil daripada pembentukan normal pertama (1 NF) adalah sebagai berikut ini :




No Fac
Kode Supp
Nama Supp
Kode Brg
Nama Barang
Tanggal
Jatuh Tempo
Qty
Harga
Jumlah
Total
779
998
998

S02
G01
G01
Hitachi
Gobel Nustra
Gobel Nustra
R02
A01
A02
Rice Chocker C3
AC Split ½ PK
AC Split 1 PK
02/02/01
07/02/01
07/02/01
09/03/01
09/03/01
09/03/01
10
10
10
150000
135000
2000000
1500000
13500000
20000000
1500000
33500000
33500000


Gambar 7.3. Relasi  memenuhi 1 NF

Pada normal pertama tersebut masih terjadi banyak kelemahan, terutama pada proses ANOMALI  insert, update dan delete berikut ini:

a).
Inserting / Penyisipan
Kita tidak dapat memasukkan kode dan nama supplier saja tanpa adanya transaksi pembelian, sehingga supplier baru bisa dimasukkan kalau ada transaksi pembelian.

b).
Deleting / Penghapusan
Bila satu record / baris di atas dihapus, misal nomor faktur 779, maka berakibat pada penghapusan data supplier S02 (Hitachi) padahal data tersebut masih diperlukan.

c).
Updating / Pengubahan
Kode dan nama supplier terlihat ditulis berkali-kali, bila nama supplier berubah, maka di setiap baris yang ada harus dirubah, bila tidak menjadi tidak konsisten.

Atribut jumlah (merupakan atribut turunan) seharusnya tidak perlu, karena setiap harga dikali kuantitas akan menghasilkan jumlah, sehingga hasilnya akan menjadi lebih konsisten.

3. Bentuk Normal Kedua (2 NF)
Bentuk normal kedua dengan melakukan dekomposisi relasi diatas menjadi beberapa relasi dan mencari kunci primer dari tiap-tiap relasi tersebut dan atribut kunci haruslah unik.
Melihat permasalahan faktur di atas, maka dapat diambil beberapa kunci kandidat :  ( No_Faktur, Kode_Supplier, dan Kode_Barang ). Kunci kandidat tersebut nantinya bisa menjadi kunci primer pada relasi hasil dekomposisi.

Dengan melihat normal pertama, kita dapat mendekomposisi menjadi tiga relasi berserta kunci primer yang ada yaitu : relasi Supplier (Kode_Supplier), relasi Barang (Kode_Barang), dan Relasi Faktur (No_Faktur). Dengan melihat ketergantungan fungsional atribut-atribut lain terhadap atribut kunci, maka didapatkan 3 (tiga) relasi sebagai berikut :

Relasi Supplier
Kode_Supplier
Nama _Supplier
S02
G01
G01
Hitachi
Gobel Nustra
Gobel Nustra

Relasi Barang
Kode_Barang
Nama_Barang
Harga
R02
A01
A02
Rice Chocker C3
AC Split ½ PK
AC Split 1 PK
150000
135000
2000000

   Relasi Faktur
No_Faktur
(Kode_Barang)
(Kode _Supplier)
Tanggal
Jatuh_tempo
Qty
779
998
998

R02
A01
A02
S02
G01
G01
02/02/01
07/02/01
07/02/01
09/03/01
09/03/01
09/03/01
10
10
10

Gambar 7.4. Relasi memenuhi 2 NF

Kamus Data dari masing-masing relasi tersebut diatas adalah sebagai berikut: 
Supllier   = { Kode_Supplier, Nama_Supplier }
Barang = { Kode_Barang, Nama_Barang, Harga }
Faktur    = { No Faktur, Kode Barang Kode_Supplier, Tanggal, Jatuh_Tempo, Qty }

Dengan pemecahan relasi di atas, maka untuk pengujian bentuk normal kesatu (1 NF) yaitu insert, update, dan delete akan terjawab. Kode dan nama supplier baru dapat masuk kapanpun tanpa adanya transaksi pada tabel faktur. Demikian pula untuk proses update dan delete untuk tabel Supplier dan Barang.

Pada bentuk normal kedua tersebut masih terjadi permasalahan yaitu pada relasi Faktur, yaitu  :
1).
Atribut Quantitas pada relasi Faktur, tidak tergantung pada kunci utama, atribut tersebut bergantung fungsi pada Kode Barang + no_faktur, hal ini dinamakan ketergatungan transitif dan haruslah dipilah menjadi dua relasi.
2).
Masih terdapat pengulangan, yaitu setiap kali satu faktur yang terdiri dari 5 macam barang maka  5 kali juga dituliskan no_faktur, tanggal, dan jatuh_tempo. Hal ini harus dipisahkan bila terjadi penggandaan tulisan berulang-ulang.

4. Bentuk Normal Ketiga (3 NF)
Bentuk normal ketiga mempunyai syarat, setiap relasi tidak mempunyai atribut yang bergantung transitif, harus bergantung penuh pada kunci utama dan harus memenuhi bentuk normal kedua (2 NF).
Untuk emmenuhi bentuk normal ketiga (3 NF), maka pada relasi faktur harus didekomposisi (dipecah) lagi menjadi dua relasi yaitu relasi faktur dan relasi transaksi barang, sehingga hasilnya adalah sebagai berikut ini:













Relasi Supplier                                                  Relasi Barang
Kode_Supplier
Nama Supplier

Kode_Barang
Nama_Barang

Harga

G01
S02
Gobel Nustra
Hitachi

R01
A01
A02
Rice Cooker CC3
AC Split ½ PK
AC Split 1 PK
150.000
1.350.000
2.000.000
                   Relasi Faktur
No_Faktur
Tanggal
Jatuh_Tempo
Kode_Supplier
779
998
02/02/2001
07/02/2001
09/03/2001
09/03/2001
S02
G01
         Relasi Transaksi_Barang
No_Faktur
Kode_Barang
Qty
779
998
998
R01
A01
A02
10
10
10

Gambar 7.5. Relasi memenuhi 3 NF

Kamus Data dari masing-masing relasi tersebut diatas adalah sebagai berikut: 
Supllier   = { Kode_Supplier, Nama_Supplier }
Barang = { Kode_Barang, Nama_Barang, Harga }
Faktur    = { No Faktur, Kode_Supplier, Tanggal, Jatuh_Tempo }
Transaksi_Barang    = { No Faktur, Kode Barang Qty }

Primary key pada relasi Supplier adalah Kode_Supplier,  Primary key pada relasi Barang adalah Kode_Barang,  Primary key pada relasi Faktur adalah No_Faktur dan Foreign key nya adalah Kode_Supplier, Primary key pada relasi Transaksi_Barang adalah No_Faktur, Kode_Barang dan keduanya juga menjadi Foreign key.

5. ERD (Entity Relationship Diagram)
Gambaran hubungan antar entitas / relasi yang terbentuk, adalah seperti terlihat pada gambar berikut ini :






 














Keterangan : * = Primary Key, ** =Foreign Key
Gambar 7.6. ERD (Entity Relationship Diagram)

Pengertian Hubungan (Relation) antar pada gambar ERD (entity relationship diagram) pada gambar di atas adalah   sebagai berikut:

a).
Supplier ke Faktur relasinya adalah one to many, artinya adalah satu supplier mempunyai banyak faktur, faktur punya relasi terhadap supplier.
b).
Faktur ke Transaksi_Barang relasinya adalah one to many, artinya adalah satu faktur mempunyai beberapa transaksi barang (satu faktur terdiri dari satu atau lebih transaksi barang).
c).
Barang ke Transaksi_Barang relasinya adalah one to many, artinya adalah satu barang bisa terjadi beberapa kali transaksi pembelian barang.


Implementasi ERD (entity relationship diagram) physical pada contoh diatas, bisa dituangkan kedalam database MS-Access aatau SQL Server, seperti terlihat pada gambar beikut ini:





 

 



 

 

 












 
 











Gambar 7.7. ERD dengan database MS-Access 2000











 
 










Gambar 7.8. ERD dengan database SQL Server 2000


Pertanyaan Soal
  1. Carilah dokumen dasar seperti dalam contoh faktur diatas, setelah saudara temukan, kemudian lakukan langkah – langkah normalisasi data ?.
  2. Setelah model ERD terbentuk, buatlah ERD physical tersebut dengan menggunakan database MS-Access atau SQL Server ?.











 achmadsukri5.blogsport.com dcc lampung


1 komentar: